Rabu, 17 Juni 2009

Bangku Tiga

Malam itu saya naik bis kesayangan saya, AC 84, sekitar pukul 19.05 WIB. Hmmmmm, bakal penuh nih, begitu saya mbatin. Benar saja, begitu naik, tidak banyak bangku yang tersisa. Saya bergegas ke bagian belakang bis dan duduk di bangku tiga favorit saya. Cari yang luas dan jangan jauh dari pintu keluar, begitu motto saya. Dalam hitungan menit, satu persatu bangku yang tersisa terisi penuh. Begitu pula dua bangku di samping saya yang akhirnya terisi dua orang mahasiswa dan mahasiswi.

Bis terus melaju dalam keadaan penuh dan beberapa orang penumpang akhirnya berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Mulailah saya merasa risih dengan dua orang teman duduk saya. Tadinya, saya pikir mereka cuma berteman. Namun melihat gelagat dan perilakunya, pasti pacaran. You know lah, gayanya. Perasaan saya kemudian berubah dari risih menjadi agak jengkel. Segala macam tetek bengek ketidakmengertian akan perilaku cah loro kuwi melintas lintang pukang di otak saya. Kenapa pula harus show off pacaran dengan style “lebay dot com” di muka umum? Apa ndak bisa nahan bentar nunggu tempat yang lebih sepi? Jadi, mau pacaran jungkir balik gak karuan juga gak ada yang risih........

Saya sempat terkekeh sendiri saat saya menyadari bahwa ada sedikit jejak rasa dengki melihat kelakukan mereka. Teman-teman di Facebook langsung merengsek dengan celaan a, b, c, d dan apalah dalam bentuk komentar sebagai tanggapan atas status saya yang “melaporkan” kejadian yang baru saja saya alami. Ada yang menyuruh saya langsung cari bini, ada yang menyarankan saya tepe-tepe di bis (weleh... weleh... weleh....), ada yang ngingetin saya buat cepat-cepat melepas status jomblo merdeka bahagia yang saya sandang, dan sebagainya, dan sebagainya. Feels so uzur! Kurang asem tenan arek-arek kuwi! Tetap saja saya ndak marah. Kognisi dan emosi langsung tercacah antara usaha memahami perilaku dua makhluk durjana di samping saya dan merespon balik ejekan teman-teman di Facebook. Di tengah kesibukan batin dan motorik saya (dalam bentuk jemari yang menari-nari di atas tuts hape), tiba-tiba saya menyadari bahwa teman duduk saya sudah tertidur (atau pura-pura sok tidur, hehehehehehe......). Suddenly ujug-ujug saya teringat novel-novel Agatha Christie. Terlintas satu kata, satu benda, satu ide. That would be arsenic. Teman-teman di Facebook bilang, “Jangan begitu! Masak diracun seh! Kudu sabar dong lo!”. Ooops, saya mah sabar. Nggak marah pula. Cuma sejumput rasa dengki yang terdalam, hehehehehehehe...... Lagipula, dengki itu khan hak segala bangsa, tho!

Ketika turun dari bis dan melangkah pulang dengan berjalan kaki saya kembali berpikir. Setiap perilaku harusnya kontekstual dan normatif. Namun sekarang banyak hal memiliki kecenderungan menuju anomali, walaupun logika dan penjelasan sederhana tersuguhkan dari fakta yang ada. Konteks juga mengalami pergeseran. Hal-hal yang tabu, aneh, kontra budaya atau apa pun itu kini juga menjadi normatif. Lalu, yang dahulu normatif sekarang terpinggirkan oleh asumsi bahwa “menjadi orang baik-baik saja itu kuno”. Hahahahahahahahahaha....... Gilingan padi! Pelaku dan korban jadi bertukar posisi dengan efek psikologis dari perilaku yang ditampilkan. Yo wis. Sak karepmu!
Kesoktahuan saya kemudian bubrah karena usus saya sudah melayangkan nota protes kepada otak. Artinya jelas, makan malam. Mulai tidak peduli dengan apa yang telah terjadi, saya kemudian mampir ke warung mie ayam. Sabodo teing lah sama yang tadi. Sudah berlalu pula. First thing first. Supaya lengkap suka cita saya, semangkok es teler yang so sweet (seperti saya) menjadi hidangan penutup. Lalu dengan perut begah saya pulang dengan gagahnya. Tra la la li li li..... Apa pun problemnya, makan obatnya..... Na na na na..... Du du du du du........

Senin, 15 Juni 2009

Pijar

Pada kesempatan kali ini, saya ingin sekali berbagi cerita kepada teman-teman mengenai sesuatu hal. Apa yang saya ingin ungkapkan terangkai dalam tiga buah cerita yang kebetulan saya dengar dan saya alami sendiri.

Suatu hari saya mendengar cerita dari teman seruangan di kampus. Cerita ini mengenai seorang siswa dengan tingkat kecerdasan yang tergolong borderline (sangat rendah). Siswa ini kebetulan bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (dan bukan SLB). Selama hampir tiga tahun dia bersekolah dia selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya dikarenakan betapa terlambatnya memahami materi pelajaran. Pihak sekolah dengan ikhlas hati menawarkan bantuan jika siswa tersebut ingin pindah ke sekolah lain. Namun orangtua siswa tersebut menolak karena anaknya memang tidak ingin pindah dan bersikeras belajar di sekolah yang bersangkutan. Dalam kesehariannya, siswa itu sering tidak mau masuk sekolah jika pekerjaan rumah atau PRnya belum selesai. Malu dengan teman-teman yang lain, katanya. Belum lagi beberapa kejadian di mana siswa tersebut jatuh sakit dan langsung drop di sekolah dan di jalan dikarenakan terlalu besarnya usaha dalam memahami materi pelajaran. Masih ada banyak lagi cerita mengenai semangat belajar yang luar biasa dari siswa ini untuk didengarkan dan menjadi contoh yang luar biasa. Sekarang, siswa yang hebat ini sudah tiada karena telah meninggal dalam sebuah kecelakaan. Teman-teman sekolah yang dahulu mencemooh merasa berdosa, kehilangan dan sangat menyesal. Tetapi banyak juga yang bahagia, bahwa siswa hebat ini tidak perlu berjuang melewati UN (yang luar biasa kacau itu) dan sudah mendapatkan kebahagiaan sejati di sisi-Nya.

Cerita yang berbeda saya alami ketika harus menyidang proposal skripsi mahasiswa di kampus. Ketika selesai sidang, mahasiswi tersebut ditanya oleh pimpinan sidang kapan akan menyelesaikan skripsinya kelak. Tiba-tiba mahasiswi tersebut menangis. Dengan terisak dia mengatakan bahwa dia bisa beruntung bisa sidang proposal skripsi semester ini karena tiba-tiba suaminya dapat rejeki untuk membayar kuliahnya. Ke depannya dia belum tahu bisa sampai sidang skripsi atau justru mundur dari kuliah karena keterbatasan biaya mengingat anaknya sedang sakit dan membutuhkan biaya untuk berobat. Mahasiswi tersebut belum tahu jika ada rejeki lagi, uang yang ada akan digunakan untuk berobat anaknya terlebih dahulu, karena bayar uang kuliah bisa menunggu (walaupun masa studi mahasiswa ini tidak lagi bisa menunggu). Saya terhenyak. Luar biasa tertohok dan merasa sangat tidak berdaya. Saya hanya memiliki empati dan memberikan simpati dalam diam. Saya mungkin hanya bisa menangis (kalau tidak saya tahan saat itu), lain tidak. Masya Allah........

Cerita yang ketiga saya dengar langsung dari seorang mahasiswa dari fakultas lain yang curhat kepada saya dan meminta saran tentang suatu hal. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengingat etika yang ada. Hanya saja saya ingin membagi beberapa hal. Teman saya ini, bercerita bahwa dahulu kondisi keluarganya cukup berada. Ketika ayahnya meninggal segalanya berubah. Keadaan ekonominya menjadi buruk. Untuk bisa bertahan hidup di kost dan kuliah, teman saya ini menjual banyak barang elektronik yang tersisa. Sebagai tambahan, teman saya ini mendapatkan uang dari jasa memijat karena dia memiliki keterampilan memijat. Teman saya ini menjadi asisten lab dan pastinya memiliki prestasi akademis yang baik (karena tidak mungkin menjadi asisten lab tanpa memiliki IPK yang tinggi). Sekarang ini setelah lulus S1 yang dia cita-citakan adalah segera mendapatkan pekerjaan dan bisa membahagiakan ibunya. Subhanallah........

Saya menulis tulisan ini dalam keadaan menahan tangis haru dan segudang perasaan lainnya. Bagi saya sudah jelas maksud yang ingin disampaikan Tuhan kepada saya pribadi. Belajar adalah bagian dari perjuangan. Belajar adalah ibadah. Belajar adalah usaha untuk memuliakan anugerah Tuhan yang telah diberikan kepada dalam bentuk kesempatan untuk bersekolah, kuliah, atau apa pun itu dalam bentuk apa pun juga. Saya berpikir, apa yang telah saya lakukan? Saya sebagai manusia yang congkak ini merasa sudah hebat dengan apa yang bisa saya lakukan dan dengan apa yang saya raih. Seringkali pula lupa bersyukur dan masih mengajukan nota protes kepada Sang Maha Pemberi atas semua masalah akademis yang saya jumpai. Tapi jika saya berada di posisi seperti salah satu yang saya ceritakan di atas, mungkin tidak akan mampu bertahan lama. Saya yang sedang studi lanjut ini sungguh tidak sebanding dengan teman-teman saya tersebut di atas.

Teman-teman sekalian, saya tidak ingin berkotbah apa-apa kepada kalian semua yang membaca tulisan ini. Pencerahan jelas tidak bisa dipaksakan. Tapi yang jelas saya belajar sesuatu (lagi) dari teman-teman dalam cerita di atas bahwa dengan belajar saya akan lebih mampu menghargai kehidupan. Tak perlu berpanjang lebar lagi merangkai kata. Berjuang demi cita-cita dengan belajar tanpa kehilangan harga diri adalah salah satu hal paling indah dalam hidup ini.

  • Teruntuk dik A, mbak D, dan mas L: Kalian adalah terang bagi orang-orang seperti saya. Semangat dan perjuangan kalian, Insya Allah, akan selalu menjadi cahaya bagi setiap kemalasan yang mendera dan letih hati di setiap kesulitan yang saya jumpai. Gusti Allah ora sare. Happiness comes as the end.

Jumat, 01 Mei 2009

Facebook dan Ketelanjangan Kita


Salah satu tokoh psikologi terkenal asal Orsha, Rusia yang bernama Lev Vygotsky pernah mengatakan bahwa kebutuhan berkomunikasi adalah salah satu kebutuhan manusia yang secara natural harus terpenuhi. Apa pun caranya, manusia harus berkomunikasi. Hal ini dilakukan manusia untuk menyampaikan maksud dan tujuannya, untuk mengekspresikan isi hati dan pikirannya.

Karena komunikasi itu adalah sesuatu yang sangat cair, maka ia membutuhkan wadah. Komunikasi butuh akses untuk disalurkan melalui surat, media cetak dan elektronik, atau apa pun itu. Setiap masa memiliki primadona akses dan media komunikasinya masing-masing. Adapula masa – seperti dewasa ini – ketika beragam akses dan media komunikasi menjadi primadona di saat yang bersamaan. Komputer jinjing yang semakin mobile, telepon genggam yang semakin user friendly dan multifungsi, serta tentu saja munculnya beragam (situs) jejaring sosial sebagai media komunikasi dan eksistensi diri di internet seperti blog yang dapat ditemui di beberapa sumber seperti Multiply, Blogspot hingga WordPress, kemudian Friendster, Flixter, MySpace, hingga Facebook.

Saya sendiri adalah termasuk pengguna beberapa situs jejaring sosial tersebut di atas, dan memiliki beberapa pengalaman menarik mengenai hal itu, terutama di Facebook (FB). Beberapa bulan yang lalu sempat terjadi friksi antara saya dengan seorang teman di kampus. Masalahnya sebenarnya sepele, yakni mengenai katarsis. Seorang teman kami bicara (baca: curhat singkat) di status FBnya. Dia (kebetulan wanita) bicara mengenai pertengkaran dengan pacarnya (plus dengan ekspresi khas FB) yang ditimpali sana sini oleh beberapa teman saya lainnya. Ketika saya (mencoba) mengingatkan kalau bisa jangan mengumbar masalah pribadi yang penuh dengan emosi negatif di status FB yang nota bene merupakan ruang publik saya justru dikecam dan diminta jangan ikut campur. Selanjutnya yang terjadi adalah perdebatan yang cukup panjang di belakang layar mengenai hal itu.

Hari berlalu dan saya masih menjumpai perihal yang sama di banyak status teman-teman saya. Hujan emosi negatif (seperti kesedihan dan rasa putus asa) muncul di status banyak orang. Satu hal yang membuat saya miris, show off emosi negatif tersebut justru mengenai masalah-masalah pribadi (seperti cinta) yang mungkin sebaiknya justru tidak diketahui banyak orang. Seorang teman bahkan sempat menyeletuk, “Enak ye, bisa katarsis di FB!”. Katarsis kemudian menjadi terminologi yang terngiang-ngiang di benak saya. Efeknya semakin parah ketika mulai banyak pula teman yang juga menyalurkan kemarahan, kejengkelan dalam bentuk sumpah serapah dan caci maki yang luar biasa kasar untuk ditunjukkan dalam sebuah ruang publik bernama status FB. Saya kian bertanya-tanya ada apa dalam diri teman-teman saya ini? Apakah benar mereka menjadi lebih ringan dan sehat secara mental dengan berkatarsisria di status FB?

Puncak dari ketidakmengertian saya muncul pada suatu malam ketika seorang mahasiswa yang juga teman saya menulis sesuatu yang seharusnya bersifat rahasia dan terlindungi oleh kode etik di status FBnya. Peringatan halus dan tidak frontal yang saya berikan dalam bentuk komentar (terpaksa harus smooth supaya orang yang tidak berkepentingan tidak sadar bahwa isi status itu hal penting) ternyata tidak berhasil. Saya bersyukur saat itu kebetulan sedang on-line dari komputer rumah dan bukan dari telepon genggam sehinga dapat melihat semuanya. Kemarahan saya membuat saya menghubungi beberapa teman dosen untuk menjernihkan masalah besar ini. Tujuan saya cuma satu, bahwa hal ini tidak akan terulang lagi dan menjadi pelajaran buat semua mahasiswa saya.

Serangkaian kejadian ini mengingatkan saya akan undangan diskusi teman saya yang berotak cemerlang, Milka Santoso. Milka mengajak saya untuk berdiskusi mengapa banyak orang menampilkan kecenderungan kepribadian yang berbeda antara ketika on-line di FB dan ketika berada dalam kehidupan sehari-hari. Saat itu saya menjawab adanya role play yang memang harus dimainkan oleh banyak orang karena banyak kondisi dalam kehidupan sehari-hari tidak mengizinkan kita memainkan peran yang sama. Saya juga kembali menyatakan ketertarikan saya untuk meneliti para pengguna FB lewat survai sederhana tentang motivasi mereka menggunakan FB. Seberapa penting FB dalam kehidupan sosial mereka? Apa sih, yang mereka dapatkan dari FB. Asumsi saya – selain kebutuhan berkomuniasi – adalah kebutuhan untuk berafiliasi dan self-disclosure (dua variabel ini dahulu pernah saya teliti dalam kaitannya dengan perilaku chatting), sarana withdrawal (menarik diri), coping stres sehingga memunculkan perilaku-perilaku seperti katarsis dan proyeksi, dan beberapa hal lain yang belum saya ketahui.

Namun demikian, satu hal yang semakin jelas tampak (setidaknya oleh mata saya secara pribadi). Para pegiat FB kian sulit membedakan hal-hal apa yang sebaiknya boleh dan tidak boleh, pantas dan tidak pantas dimunculkan dalam status mereka. Saya pribadi masih harus belajar banyak dalam hal ini. Buat saya pribadi, saya lebih senang menulis emosi-emosi positif dalam status saya. Niatnya, saya bisa menularkan kebahagiaan, dan “kehebohan” dari apa yang saya tulis. Bagi saya, kesedihan akan masalah pribadi tidak etis dibagi di ruang publik. Kemarahan yang disertai sumpah serapah tidak pantas ditunjukkan, dan hal-hal rahasia yang bukan milik kita tidak boleh ditampilkan. Orang lain mungkin saja punya prinsip yang berbeda dengan saya. Tapi menurut saya, di dalam dunia maya, adalah sesuatu yang bodoh kalau kita menelanjangi diri kita sendiri. Mari kita dan saya mulai bersama-sama belajar mengendalikan diri sendiri. Apapun hal positif yang bisa kita dapatkan dari sebuah jejaring sosial seperti FB, jangan sampai menjadi bumerang buat diri kita sendiri.

Jejaring sosial di internet tidak pernah merampas ruang privat kita. Kitalah justru yang (dengan sengaja) mencampakkannya.


Selasa, 28 April 2009

If U Seek Amy dan Kita

Belakangan ini saya sedang termehek-mehek (baca: tergila-gila) dengan tembang terbaru dari Britney Spears dari album Circus yang berjudul If U Seek Amy. Rasanya kurang afdol kalau cuma sekedar geleng-geleng angguk-angguk model dugem waktu mendengarkan lagu ini. Oleh karenanya, dengan semangat yang luar binasa eh, biasa, saya mencari lirik lagu ini di internet untuk di-copy paste agar bisa bergoyang plus menemani jeung Britney ini bernyanyi. Walaupun (baru) menyadari bahwa proses copy paste tidak bisa lagi dilakukan saya tetap tidak mengendurkan semangat untuk mencatat setiap kata-kata di liriknya. Setelah semuanya selesai, baru saya menyempatkan diri membaca riuh rendah komentar yang berseliweran di internet mengenai lirik lagu ini.

Memang ada apa sih? Begitu yang ada di pikiran saya. What’s wrong with the song? What’s wrong with..... ooops, the title? Setelah membaca sebagian komentar saya baru menyadari sesuatu. Judul lagu ini ternyata mengisyaratkan sesuatu yang kemudian menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Saya sedikit tertawa ketika harus membacanya dengan mempergunakan sebagian kecil prinsip feature analysis dari Psikologi Kognitif (fiuh......, capek deh....). If merujuk pada huruf F. U adalah memang huruf U. Seek harus dipecah menjadi See (lafal dari huruf C) dengan huruf K sebagai huruf K. Sedangkan Amy dibaca sebagai me. Baru saya ngeh apa yang diributkan banyak orang tersebut. Arti dari judul itu adalah f*** m*. Mau tahu sepenggal lirik di bagian reffrainnya? Love me, hate me. But, can’t you see what I see? All of the boys and all of the girls are begging to if you seek Amy...... Isi lagu menjadi kian jelas tersampaikan ketika saya melihat video klipnya yang memang “hot” di sana-sini.

Sedikit saja yang menyatakan kekaguman atas judul yang ambigu dan kamuflatif ini. Sisanya, menyatakan kritikan, cercaan, hingga makian terhadap sang empunya lagu. Ada yang mengatakan bahwa semenjak akrab dengan alkohol dan obat-obatan terlarang jeung Britney ini menjadi lebih lantang menyuarakan seksualitas dalam lagu-lagunya. Ada pula yang bilang bahwa hal ini seperti menyatakan dukungan terhadap kebebasan seksualitas dalam bentuk yang kasar dan vulgar. Belum lagi mereka yang menyebutkan bahwa Britney dengan sengaja seperti mengindikasikan biseksualitas sebagai orientasi seks.

Jika dilihat dari kacamata dunia industri (hiburan) mungkin hal tersebut sah-sah saja. Kontroversi selalu dibutuhkan untuk mendukung popularitas dan komersialitas, plus supaya laris tentunya. Namun saya justru tertarik melihatnya dari kacamata yang sedikit berbeda. Permisivitas seksualitas di Amerika bisa jadi adalah sesuatu yang wajar dan mungkin tergolong normatif. Tetapi mengapa masalah judul “seperti ini” saja harus diributkan? Apakah sesuatu yang negatif tidak boleh “dikampanyekan”? Atau, jangan-jangan sesungguhnya mereka sadar bahwa permisivitas seksualitas adalah hal yang buruk, jadi ketika diposisikan sebagai hal yang diekspos secara wajar jadi terasa tidak enak

Saya tidak terlalu tertarik membicarakan lagu jeung Britney tersebut terlalu jauh karena tiba-tiba saya teringat dengan beberapa film bioskop Indonesia yang judulnya juga kontroversial karena mengundang pemahaman yang menyerempet perihal seksualitas. Sudah lama saya menganggap masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang tidak pernah beranjak dari masa pubertas. Senang dengan kontroversi, merasa paling benar tapi tidak bisa meluruskan banyak hal menyimpang dan justru menikmatinya, sulit disalahkan apalagi melakukan evaluasi diri dan sebagainya. Contoh sederhananya ya judul film-film bioskop tersebut. Suara sumbang tetap ada walaupun kecil. Sensor jadi seperti tidak berguna karena hanya menyensor hal-hal yang tidak penting. Filmnya ternyata cukup laris pula (walaupun seringkali penonton setia film-film ini adalah para remaja, muda-mudi atau pasangan kekasih yang juga “membuat film” sendiri di dalam bioskop).

Saya pribadi tidak ingin tenggelam dalam polemik berkepanjangan mengenai benar-salah, baik dalam konteks etis ataupun religi. Paling tidak, selesaikan dulu satu masalah sederhana sebelum sampai pada tahap tersebut. Segera lewati masa pubertas, temukan identitas diri yang jelas, dan ambil sikap. Katakan ‘salah’ jika memang salah, dan konsistenlah dengan pilihan tersebut. Atau, katakan ‘tidak mengapa’ dan jangan kemudian tuding sana sini salah seolah-olah dirinya paling benar.
Jadi, saya lebih suka memandang kasus lagu jeung Britney ini sebagai masukan dan tambahan informasi agar lebih mudah memahami banyaknya fenomena sosial (yang tidak jelas, hehehehe....) yang bermunculan dewasa ini. Kemudian, tetap menggoyang-goyangkan badan sambil tergopoh-gopoh mengikuti lirik lagu jeung Britney ini. La la la, la la la................

Minggu, 26 April 2009

Mengapa Pria Lebih "Batu" dibanding Wanita?


Pernah kesal dengan teman pria karena sepertinya kurang mampu berempati terhadap kesusahan orang lain? Pernahkah kita melihat bahwa terkadang banyak teman pria kita seperti sok tegar dalam menghadapi berbagai masalah dan hal-hal lain yang berhubungan dengan gejolak emosi? Atau mungkin kita sering kesal terhadap teman pria yang kaku, dingin dan acuh terhadap pasangannya? Stigma negatif pasti sudah ada terlebih dahulu dalam pikiran kita. Walaupun sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran dan hati mereka, setidaknya tulisan singkat ini dapat memberikan sedikit gambaran tentang mengapa sih pria seringkali lebih membatu dibanding wanita jika menyangkut hal-hal yang berbau perasaan.

Secara singkat dijelaskan bahwa wanita disebutkan sebagai sosok yang cenderung ekspresif dalam menampilkan emosi tertentu sebagai bentuk gejolak perasaan yang ada di hatinya. Bentuk-bentuk ekspresi tersebut tentu banyak ragamnya, mulai dari menangis, bersikap empati, bersedih dan sebagainya. Sebaliknya, pria cenderung lebih pelit dan sulit dalam menampilkan emosi seperti yang dilakukan kaum wanita. Menangis misalnya, adalah suatu hal yang dianggap tabu dan tidak pantas untuk dilakukan pria. Norma yang ada seakan telah membentuk suatu keyakinan yang aneh dengan memposisikan pria dalam ego maskulinitas yang tegar dan harus kuat. Oleh karena itu, sangat tidak pantas jika pria terlihat menangis.

WANITA YANG EMOSIONAL

Wanita lebih mementingkan perasaan daripada rasio adalah sebuah ungkapan yang umum didengar. Tetapi mungkin akan lebih menarik untuk ditelaah lebih lanjut mengapa hal itu bisa terjadi.

Lupton (1998) menyebutkan bahwa wanita dipandang sebagai sosok yang paling cocok untuk mengekspresikan beberapa emosi seperti duka cita, rasa takut, sentimentil, rapuh, iri dan cemburu. Emosi-emosi lain seperti rasa marah, murka, agresivitas dan kesenangan yang luar biasa tidak diharapkan untuk ada di wanita. Brownmiller (dalam Lupton, 1998) mengatakan bahwa kemarahan bagi seorang wanita adalah sesuatu yang tidak pantas. Wanita seperti ini akan tampil tidak menarik, karenanya seorang wanita yang sedang marah adalah seperti sosok yang keras, kejam dan jahat dan (seperti) di luar kontrol.

Secara umum, wanita diharapkan menampilkan kelembutan dan kerelaan serta mampu mengekspresikan perasaan yang halus terhadap orang lain. Wanita juga diharapkan lebih sadar dalam berempati terhadap perasaan orang lain. Wanita yang tidak ekspresif serta kurang menampilkan kelembutan dan perhatian akan dipandang tidak feminin (Jaggar dalam Lupton, 1998).

Salah satu hal yang dapat dilihat dengan cukup jelas untuk mendukung keterangan di atas adalah bahwa wanita akan lebih dihargai jika mampu menghadapi emosi orang lain secara natural. Hal ini bisa terjadi karena wanita percaya bahwa diri mereka sudah emosional secara alami dan memang ekspresif terhadap emosi (Lupton, 1998).

PRIA YANG TIDAK EMOSIONAL

Sebenarnya sebagai sosok yang dipandang tidak emosional, pria berada dalam dua sisi yang berbeda yaitu positif dan negatif. Lupton (1998) memaparkan kedua hal tersebut dengan perincian sebagai berikut, (1) sisi positifnya adalah saat dilihat bahwa dengan lebih rasional, lebih mementingkan pikiran dan alasan-alasan lain, serta terkontrol dengan baik akan lebih memudahkan pria dalam melebur dirinya dengan lingkungan publik di mana ia berada, (2) sedang sisi negatifnya adalah pria jadi lebih sering digambarkan sebagai sosok yang bersih dari emosi, kurang kesadaran diri terhadap lingkungan dan sering menempatkan dirinya dalam kegagalan emosi yang beresiko atau kesakitan secara fisik karena ketidakmampuannya dalam mengekspersikan emosi.

Jika bercermin pada keterangan di atas maka dapat dipahami mengapa banyak pria bisa terjebak dalam keadaan yang sangat tidak mengenakkan, misalnya saja mabuk-mabukkan karena tidak mampu menceritakan masalahnya, merokok sampai beberapa bungkus sehari saat sedang stres dengan alasan tidak memiliki kawan untuk berbagi sampai bahkan ada yang menyakiti diri sendiri dengan memukul-mukul tembok sebagai pelampiasan gejolak emosi yang terpendam (Wood, 2000).

Menurut Lupton (1998), hal di atas wajar terjadi karena pria sering merasa asing dengan dirinya sendiri, menafikkan emosi yang benar-benar dirasakan dan tidak mampu menerjemahkan apa yang mereka rasakan, mengapa merasakan hal tersebut dan bagaimana bisa mereka merasakannya. Pria juga dipandang sebagai individu yang tumpul dan kasar dalam menampilkan tipe-tipe emosi serta cenderung kurang tertarik terhadap sensibilitas emosi. Disebutkan pula bahwa penekanan emosi ke dalam dan ketidakberdayaan pria dalam mengekspresikan emosi berbanding setara dengan ketidakmampuannya membicarakan apa yang sedang mereka rasakan (Yudice dalam Lupton, 1998).

Seidler (dalam Lupton, 1998) menjelaskan pada saat pria merasakan rasa takut, frustasi, ketidakamanan dan kecemasan mereka akan menyangkal apa yang mereka rasakan dengan menampilkan perilaku yang terkontrol, disiplin dan tidak tertekan. Pria juga disebut sebagai sosok yang impoten dan tidak fasih bicara masalah emosi serta menganggap emosi sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga mereka takut dan menghindarinya (Horrocks dalam Lupton, 1998). Dalam beberapa kasus, pria terjebak sendiri dalam ego maskulinitas yang berkembang karena bentukan norma (Hofstede, 1998) sehingga mereka bahkan cenderung enggan terbuka tentang sisi-sisi feminin yang dimilikinya pada pria-pria lain sebagai kaumnya sendiri (Snell dkk. dalam Prager, 1995).

Secara lebih lanjut, Horrocks (dalam Lupton, 1998) menggunakan istilah emotional autism untuk menggambarkan pria yang tidak tahu bagaimana cara merasakan emosinya, bagaimana berespon terhadap dunia secara baik dan menarik diri dari proses intimasi dengan orang lain. Gilligan (dalam Wolfinger & Rabow, 1997) bahkan mengatakan bahwa pria lebih memegang standar moral dalam pengaplikasian prinsip-prinsipnya dan kurang referensi yang baik terhadap apa yang seharusnya dilakukan guna membentuk hubungan sosial yang hangat.

Tapi tentu tidak adil jika pria selalu ditempatkan sebagai sosok yang kurang mampu bersikap lebih dalam pengekspresian perasaan di banding wanita. Hong dan Bartley (dalam Moore, Kennedy, & Furlonger, 1999) pernah mengadakan sebuah penelitian menarik. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa pria lebih romantis dibanding wanita dalam hubungan percintaan. Mereka melakukan hal ini dengan tujuan agar kaum wanita lebih mampu bersikap fleksibel dan mengikuti kaum pria dalam bersikap praktis dalam hubungan tersebut. Kenyataan ini paling tidak menggambarkan bahwa tidak sepanjang waktu pria bersikap acuh dan seperti dingin terhadap pasangannya atau orang lain.

Ketika wanita komplain tentang kurangnya intimasi, biasanya mereka merasa bahwa pria kurang bisa mengungkapkan apa yang ada dipikiran mereka dan apa yang mereka rasakan. Banyak pria percaya bahwa bentuk pengharapan seperti itu terkadang terlihat seperti kurang adil karena mereka memperlihatkan intimasinya tersebut dalam bentuk yang lain, seperti seks misalnya (Benokraitis, 1996). Di sisi lain, pria juga lebih sering memberikan kado atau hadiah sebagai bentuk kongkrit dari pengekspresian rasa cinta, kasih sayang dan intimasi kepada pasangannya karena mereka pikir hal tersebut lebih mudah dilakukan daripada sekedar berbicara saja (Cheal dalam Benokraitis, 1996).

Sebuah penelitian neurobiopsikologi juga pernah menjelaskan bahwa otak yang berhubungan dengan emosi pada pria lebih jarang memberikan sinyal sensoris dibandingkan pada wanita ketika dihadapkan pada stimulus-stimulus afektif. Hal ini memberikan penjelasan juga terhadap penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pria cenderung lebih mengalami kesulitan dalam mengenali respon-respon emosi dari orang lain dibandingkan wanita. Penelitian lain bahkan mengedepankan hormon testosteron sebagai tersangka utama yang menyebabkan pria menjadi kurang sensitif terhadap stimulus-stimulus afektif.

Fakta menarik lain ditampilkan oleh Wood (2000) yang menjelaskan bahwa di Nepal, kaum pria dituntut untuk sama seperti wanita dalam mengasuh anak dan para lanjut usia. Hal ini sesuai dengan sebuah penelitian yang dipaparkan Kaye dan Applegate (dalam Wood, 2000) yang menjelaskan bahwa sebenarnya pria memiliki kemampuan yang sama dengan wanita dalam hal mencintai, mengasuh dan bersikap responsif dalam keluarga. Penelitian menarik lainnya juga dijelaskan oleh Mead (dalam Wood, 2000) yang menyatakan bahwa di masyarakat lain diketahui bahwa kaum prianya lebih peduli pada penampilan fisiknya dibanding kaum wanitanya yang bersikap lebih mandiri dan tertutup secara emosi.

Pada akhirnya, memang pria dan wanita tetap berbeda dalam pengekspresian emosi. Tetapi setidaknya, ada banyak hal baru yang dapat dijadikan pemahaman tentang mengapa pria seringkali lebih “dingin” dibanding wanita. Pemahaman ini perlu untuk meluruskan hal-hal yang salah bahwa sesungguhnya semuanya tidak sedangkal yang diketahui selama ini.

Adalah sesuatu yang menarik jika melihat keterangan di atas tentang bagaimana budaya telah membentuk pria dan wanita dalam menampilkan emosi mereka. Mungkin saja di Barat, emosi dengan segala bentuk pengeskpresiannya pada pria maupun wanita lebih dilihat sebagai sesuatu yang natural dan bukan secara kultural (Lutz, 2000), tetapi dapat dilihat dengan cukup jelas bahwa budaya memainkan peranan yang penting di sini.

Moore, Kennedy dan Furlonger (1999) mendukung pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa budayalah yang mengasosiasikan wanita dengan segala sifat femininnya dan pria dengan segala sifat maskulinnya. Maka tidak mengherankan bahwa dikotomi pria dan wanita dalam hal pengekspresian emosipun menjadi sedemikian diskrit dan terkotak-kotaknya. Jika memang begitu, bagaimana pemahaman tentang perbedaan pengekspresian emosi antara pria dan wanita sekarang ini? Jika ada yang harus disalahkan, apakah itu memang budaya yang patut menerimanya? Ataukah memang masyarakat itu sendiri yang selama ini telah membiarkan diri mereka dininabobokan oleh prasangka dan pemahaman sempit tentang hal itu? Atau sebaiknya dikembalikan pada masyarakat saja? Toh, semua ini semakin memantapkan pemahaman, bahwa ketidaktahuan pada masing-masing jenis kelamin yang berbeda adalah bagian dari keseimbangan alam. Tahu segalanya tidak akan pernah cukup sebab manusia adalah bagian dari ketidaktahuan itu sendiri.

Sabtu, 25 April 2009

Menikah? Yuukkk Mareeeee......!

Menikah? Ehm….. Gimana ya? Yang pasti ya bukan gimana-gimana! Membicarakan masalah pernikahan (walaupun cukup menarik) bisa saja tidak cukup satu dua hari. Kenapa? Yah, terlalu kompleks mungkin. Oleh karena itu kita tidak perlu berpanjanglebar sampai dalam kehidupan pernikahan itu sendiri. Yang akan dibahas dalam tulisan singkat ini sederhana saja, kenapa sih orang memutuskan untuk menikah?

Pernah tahu kasus orang yang ujug-ujug langsung menikah? Tanpa proses berpacaran? Kenal beberapa bulan atau beberapa minggu langsung menikah? Kalau begitu apa namanya? Jodoh? Atau sekedar mengikuti takdir belaka? Lalu bagaimana orang yang sudah berpacaran sekian tahun lamanya eh, bukannya menikah malah putus dengan suksesnya. Unik? Terserah persepsi masing-masing orang deh, yang jelas kenyataan seperti ini banyak terjadi kok.

Pernikahan sesungguhnya hanya sebuah muara dari perjalanan panjang sungai cinta, kasih sayang dan keterpaduan komitmen antara dua individu yang berbeda. Idealnya sih seperti itu. Pada kenyataannya, banyak yang menikah juga bukan karena cinta. Lho, kok bisa? Ya bisa aja! Apa sih yang nggak bisa di dunia ini?! Karena harta misalnya? Wah, kalau itu sih memang nggak bisa disalahkan. Wajarlah, masak cuma disuruh makan cinta saja. Nggak mungkin lah yauw! He…he…he…

Penelitian Patterson dan Kim (dalam Benokraitis, 1996) menyebutkan bahwa pada tahun 1990an ada beberapa alasan mengapa orang memutuskan untuk menikah. Alasan yang tertinggi adalah karena cinta (36%), kemudian karena hubungan belaka (14%), karena adanya keinginan untuk memiliki anak (12%), karena ingin berbahagia (9%), karena uang (5%), karena kebiasaan semata (5%), karena ingin bisa menggantungkan diri dengan orang lain yang menjadi pasangan (3%) dan karena takut terkena AIDS (2%). Penelitian yang dilakukan di Amerika ini sudah berlangsung lama, entah bagaimana hasilnya sekarang. Mungkin saja ada perbedaan yang mencolok. Entah bagaimana juga jika dilaksanakan di Indonesia. Mau coba neliti?
Adapun Crooks dan Baur (1990) memberikan beberapa alasan lain mengapa seseorang memutuskan untuk menikah, yaitu:
  1. Menurut mereka, pernikahan dapat memberikan suatu bentuk perasaan yang sifatnya menetap tentang bagaimana memiliki seseorang dan menjadi milik seseorang serta perasaan dibutuhkan orang lain
  2. Kedekatan dan kepercayaan dalam pernikahan dapat membawa pada suatu bentuk hubungan yang labih kaya dan dalam sifatnya
  3. Hubungan seks yang ada sifatnya legal dan wajar secara norma sosial
  4. Seiring dengan semakin dalamnya pengetahuan akan pasangan masing-masing maka orang-orang berharap mereka akan juga semakin memahami kebutuhan pasangannya dan hubungan yang tercipta semakin harmonis
  5. Ada beberapa keuntungan secara keuangan dan hukum yang bisa didapatkan dalam pernikahan
Adalah juga menarik jika mengetahui, dalam masyarakat Indonesia, lazimnya orang memutuskan menikah karena apa sih? Jika jawabannya karena cinta itu sudah STD alias standar. Lha iya, mosok kita mau menikahi orang yang tidak kita cintai. Kalaupun begitu, itu pasti sebuah kasus yang sifatnya pengecualian. Bagaimana kalau jawabannya karena tuntutan masyarakat? Sudah berumur kok belum menikah juga, begitu misalnya. Lha wong belum ketemu jodoh gimana? Padahal juga sudah usaha lho, tapi masyarakat khan biasanya mana mau mengerti kesulitan itu. Salah-salah malah disangka pecinta sejenis lagi. What! Oh no….! Barabe tenan yek ngono!

Atau bagaimana kalau menikah dengan alasan dijodohkan, manut aja, padahal nggak cinta. Masak sih? Hari gini, masih trend gitu nikah ala Siti Nurhaliza eh Siti Nurbaya? Why not?! Nggak cinta kalau cantik sih mau-mau aja. Syukur-syukur kaya raya dan tajir luar biasa. He…he…he… Matre ya? Nggak mau rugi dong! Coba hidup bisa kita atur seenak hati kita gitu ya! The other reason for menikah untuk menghindari zina. Kalau sudah kelihatan ngebet dan nepsong all the time, wah…. Mesti hati-hati nih. Dari pada terjadi hal-hal yang diinginkan (apa tuch?), mendingan dinikahin aja deh.

Bagi mereka yang sudah terlalu lama berpacaran, ehm, watch out! Ada sebuah joke menarik yang mengatakan bahwa jangan terlalu lama berpacaran. Kenapa? Karena selain bisa memunculkan rasa jenuh, orang juga tidak lagi merasa surprise karena sudah banyak tahu tentang pasangan masing-masing. Ada pendapat lain?

Dalam beberapa kasus, pacaran yang sudah lebih dari lima tahun memang sangat beresiko memunculkan perasaan jenuh. Memang sih, banyak juga yang berargumen bahwa hal itu tergantung bagaimana pasangan tersebut memelihara suasana yang ada. Tapi pada kenyataannya, tidak mudah lho. Bicara selalu lebih gampang daripada melaksanakannya. Betul nggak? Ada lagi yang sudah pacaran lama tapi belum bisa menikah karena belum merasa mapan. Argumentasi lain disodorkan, kalau menunggu mapan terus sampai kapan? Tapi masalah mapan atau tidak, sepertinya lebih baik mapan dulu deh. Kalau masih dedel dowel terus menghidupi keluarga dari mana? Lha, selama ini pacaran ngapain aja? Nggak nabung? Payah deh. Ada juga yang meski sudah lama pacaran tapi belum juga merasa siap menikah. Terus kapan siapnya? Sampai kapan? Kayak gini nih kalau keasyikan pacaran tapi lupa mikirin pernikahan.

Ada sebuah cara yang lazim dilakukan untuk lebih mengikat fisik dan terutama hati pasangan serta belajar lebih siap menghadapi pernikahan, yaitu dengan melaksanakan pertunangan (engagement). Katanya sih, dengan pertunangan pasangan kita bisa lebih terjaga daripada harus dicurigai dan “dirantai” terus menerus. Oh really?!

Pertunangan sering juga dilakukan untuk melicinkan jalan suatu pasangan menuju ke gerbang pernikahan. Tetapi ada suatu fakta yang dikemukakan oleh Benokraitis (1996) yaitu pasangan Octavio Gullen dan Adriana Martinez dari Meksiko yang menghabiskan waktu selama 67 tahun dalam ikatan pertunangan dan memastikan satu dengan yang lainnya adalah orang yang tepat sebelum menikah. Ya ampun mbah, selama itu kalian ngapain aja sih? Masih untung nggak “out” atau dipanggil Yang Maha Kuasa sebelum nikah. Gilingan padi. Ada juga ya yang kayak gini di dunia......

Benokraitis (1996) juga menyebutkan bahwa pada tahun 1992 di Stadion Olimpiade di Seoul, Korea Selatan pernah dilangsungkan pernikahan massal. Mau tahu berapa orang yang menikah? Ada sekitar 20 ribu pasangan dari sekitar 131 bangsa ditambah 10 ribu pasangan lain yang secara bersamaan juga menikah melalui satelit di lima negara yang berbeda yaitu Brazil, Filipina, Zaire, Kenya dan Nigeria. Alamak! Amazing! Tak ada komentar, speechless!

Menurut Buss dkk. (dalam Santrock, 1999) dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 9.474 orang dewasa di lebih dari 37 budaya yang berbeda di enam benua diketahui bahwa ternyata chastity atau keadaan di mana calon pasangan yang akan dinikahi belum pernah melakukan hubungan seks, ternyata adalah hal yang paling dipertimbangkan oleh kebanyakan orang yang akan menikah di seluruh dunia. Wuih…. Ternyata keperawanan dan keperjakaan masih ada nilainya ya hari gini. Kirain sudah nggak ngepek! Eit, hati-hati kalau bicara ya!

Penelitian yang dilakukan tersebut di atas ternyata juga menyebutkan beberapa fakta, antara lain (1) chastity adalah sebuah faktor yang penting yang dijadikan pertimbangan sebelum menikah di negara-negara seperti Cina, India, Indonesia, Iran, Taiwan dan Palestina, (2) orang-orang di Irlandia dan Jepang ternyata lebih moderat dalam hal chastity ini, dan (3) secara kontras, orang-orang di Swedia, Finlandia, Norwegia, Belanda dan Jerman tidak mengedepankan chastity ini sebagai sesuatu yang penting.

Dalam penelitian tersebut juga dipaparkan beberapa hal antara lain bahwa (1) di Estonia, Kolombia dan budaya Zulu di Afrika Selatan ternyata kemampuan mengurus rumah tangga adalah sesuatu yang dipentingkan sedangkan kebalikannya justru ditemukan di Amerika, Kanada dan seluruh negara-negara Eropa Barat kecuali Spanyol, (2) di negara-negara Skandinavia banyak orang telat menikah dan kebalikannya di negara-negara Eropa Timur justru orang-orang banyak yang menikah dini, dan (3) di negara-negara Skandinavia banyak orang mudanya yang lebih memilih hidup serumah atau cohabition sedangkan di Jepang meskipun banyak orang mudanya yang belum menikah tetapi mereka lebih memilih untuk tetap tinggal bersama orang tuanya.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, kalau Tuhan mengizinkan, lebih baik sekali seumur hidup. Menikah adalah ibadah, kenapa harus menghindari? Segala trauma masa lalu akan Tuhan hapus melalui tangan waktu dan kebahagiaan yang menanti di esok hari. Saat berpacaran masing-masing individu belajar untuk menjadi lebih dewasa dan saat menikah proses belajar tersebut terus berlanjut dan memasuki tahap yang lebih tinggi. Dengan menikah manusia menjadi lebih baik dalam bersikap dan menyikapi hidup. Kalau ada yang sehabis menikah perilakunya tidak berubah menjadi lebih baik, nah itu yang patut dicurigai. Mesti diruwat dulu orang yang seperti ini. Jadi kalau memang sudah saling siap menikah terutama secara mental maupun materi, berapapun umur sekarang, buat apa menunggu lebih lama lagi? Menikahlah, sampai kematian memisahkan. Hikz…hikz…hikz… Jadi terharu.... Atau gimana kalau kita contoh pembuatan SIM kolektif, jadi menikah secara kolektif. Emang bisa ya? Ah, gak taulah, yang penting, menikahlah! Menikah, siapa takut! And, menikah, yuuuk mareeee………!

Attitude of Gratitude

Manusia hidup dengan impian dan harapan. Manusia hidup dengan semangat dan keinginan. Ketika manusia memiliki jiwa untuk mencintai dan menyayangi mereka bisa menampilkan dan memberikan banyak keindahan dalam hidup ini. Ketika manusia sadar bahwa mereka memiliki banyak hal baik untuk dipertahankan mereka akan memberikan lebih banyak arti dalam hidup ini.
Hanya saja, keberadaan manusia dalam hidup tidak pernah lepas dari prinsip keseimbangan alam sebagaimana hukum benar-salah dan baik-buruk. Ada yang punya segalanya, ada yang serba kekurangan. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang cukup secara fisik, ada yang memiliki cacat tubuh. Ada yang sukses, ada yang gagal. Ada yang merasa malang, ada yang merasa beruntung. Ada yang merasa “punya segalanya” meski kekurangan, ada yang “merasa kekurangan” ketika punya segalanya.

Mengapa begitu penting mengedepankan hal-hal seperti tersebut di atas? Tentu saja hal-hal tersebut perlu untuk ditunjukkan. Pemahaman tentang betapa kemampuan bersyukur manusia itu masih sangat tergantung pada apa yang dimiliki dan persepsi terhadap apa yang dimiliki penting untuk diketahui. Akan sulit bagi manusia untuk bersyukur ketika sedang tidak punya sesuatu bahkan ketika punya sesuatu atau banyak hal. Banyak manusia bahkan selalu merasa kekurangan ketika sudah memiliki banyak hal. Terlepas dari sifat manusia yang memang tidak pernah puas tentu juga harus sadar bahwa kita tidak pernah bisa memiliki dan mendapatkan semua yang kita inginkan.

Kita sering kali terlalu terpaku terhadap kekurangan-kekurangan yang kita miliki sehingga secara tidak sadar seperti menutup mata terhadap semua berkah dan anugerah Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Tidak mungkin menjadi sempurna karena kesempurnaan mutlak milik Tuhan semata. Hidup bukan berarti mendewakan kebahagaan atau terjebak dalam kepedihan dalam waktu yang lama sebab dalam hidup pasti ada pedih dan bahagia. Siapa yang bisa mengingkari dan lari darinya? Lalu kemudian apa yang bisa kita lakukan? Adakah hal-hal yang berarti yang bisa membuat kita bisa lebih bersyukur?

Salah satu cara yang mampu dilakukan oleh kita adalah mengembangkan atitude of gratitude. Attitude of gratitude adalah sikap untuk tetap fokus terhadap hal-hal yang menyenangkan (Greenberg, 2002). Mengembangkan sikap ini akan sangat membantu kita untuk bisa melihat secara lebih jelas anugerah-anugerah yang luar biasa banyak yang diberikan Tuhan kepada kita. Mungkin saja selama ini dalam kesulitan yang selalu tampak adalah hal-hal buruk yang membebani perasaan dan semangat kita seolah-olah tidak ada hal baik yang diberikan Tuhan kepada kita.

Apapun kesulitan kita dan dalam keadaan seburuk apapun kita seharusnya mampu melihat hal-hal baik yang (sebenarnya) tetap ada. Terlepas dari semua kekurangan yang ada dan yang kita miliki pasti tetap ada sisi baik dan kelebihan-kelebihan yang diberikan Tuhan. Ketika kita mampu melakukan hal ini maka hidup bukan hanya tampak menjadi lebih indah meskipun keadaan kita belum tentu baik, melainkan kita juga akan dapat berpikir lebih jernih lagi. Dalam keadaan ini kita akan mampu melakukan prinsip self determining being atau mampu menentukan apa yang sebetulnya terbaik bagi kita (Bastaman, 2005). Bersyukur dan realistis tentu penting untuk dilakukan agar segala yang sulit menjadi lebih mudah dan segala yang indah menjadi jauh lebih indah. Dalam segala keterbatasan manusia selalu ada hal-hal baik yang diberikan Tuhan supaya manusia bisa terus bertahan dan tetap maju.
Mudah-mudahan, kita semua masuk ke dalam golongan orang-orang seperti ini. Bagaimanapun juga Tuhan Maha Pemberi, maka ketika kita mampu bersyukur dan iklas serta melihat hal-hal baik dalam hidup ketika kita sedang susah maka jalan keluar dan semangat untuk bertahan akan muncul kemudian.