Pernah kesal dengan teman pria karena sepertinya kurang mampu berempati terhadap kesusahan orang lain? Pernahkah kita melihat bahwa terkadang banyak teman pria kita seperti sok tegar dalam menghadapi berbagai masalah dan hal-hal lain yang berhubungan dengan gejolak emosi? Atau mungkin kita sering kesal terhadap teman pria yang kaku, dingin dan acuh terhadap pasangannya? Stigma negatif pasti sudah ada terlebih dahulu dalam pikiran kita. Walaupun sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran dan hati mereka, setidaknya tulisan singkat ini dapat memberikan sedikit gambaran tentang mengapa sih pria seringkali lebih membatu dibanding wanita jika menyangkut hal-hal yang berbau perasaan.
Secara singkat dijelaskan bahwa wanita disebutkan sebagai sosok yang cenderung ekspresif dalam menampilkan emosi tertentu sebagai bentuk gejolak perasaan yang ada di hatinya. Bentuk-bentuk ekspresi tersebut tentu banyak ragamnya, mulai dari menangis, bersikap empati, bersedih dan sebagainya. Sebaliknya, pria cenderung lebih pelit dan sulit dalam menampilkan emosi seperti yang dilakukan kaum wanita. Menangis misalnya, adalah suatu hal yang dianggap tabu dan tidak pantas untuk dilakukan pria. Norma yang ada seakan telah membentuk suatu keyakinan yang aneh dengan memposisikan pria dalam ego maskulinitas yang tegar dan harus kuat. Oleh karena itu, sangat tidak pantas jika pria terlihat menangis.
WANITA YANG EMOSIONAL
Wanita lebih mementingkan perasaan daripada rasio adalah sebuah ungkapan yang umum didengar. Tetapi mungkin akan lebih menarik untuk ditelaah lebih lanjut mengapa hal itu bisa terjadi.
Lupton (1998) menyebutkan bahwa wanita dipandang sebagai sosok yang paling cocok untuk mengekspresikan beberapa emosi seperti duka cita, rasa takut, sentimentil, rapuh, iri dan cemburu. Emosi-emosi lain seperti rasa marah, murka, agresivitas dan kesenangan yang luar biasa tidak diharapkan untuk ada di wanita. Brownmiller (dalam Lupton, 1998) mengatakan bahwa kemarahan bagi seorang wanita adalah sesuatu yang tidak pantas. Wanita seperti ini akan tampil tidak menarik, karenanya seorang wanita yang sedang marah adalah seperti sosok yang keras, kejam dan jahat dan (seperti) di luar kontrol.
Secara umum, wanita diharapkan menampilkan kelembutan dan kerelaan serta mampu mengekspresikan perasaan yang halus terhadap orang lain. Wanita juga diharapkan lebih sadar dalam berempati terhadap perasaan orang lain. Wanita yang tidak ekspresif serta kurang menampilkan kelembutan dan perhatian akan dipandang tidak feminin (Jaggar dalam Lupton, 1998).
Salah satu hal yang dapat dilihat dengan cukup jelas untuk mendukung keterangan di atas adalah bahwa wanita akan lebih dihargai jika mampu menghadapi emosi orang lain secara natural. Hal ini bisa terjadi karena wanita percaya bahwa diri mereka sudah emosional secara alami dan memang ekspresif terhadap emosi (Lupton, 1998).
PRIA YANG TIDAK EMOSIONAL
Sebenarnya sebagai sosok yang dipandang tidak emosional, pria berada dalam dua sisi yang berbeda yaitu positif dan negatif. Lupton (1998) memaparkan kedua hal tersebut dengan perincian sebagai berikut, (1) sisi positifnya adalah saat dilihat bahwa dengan lebih rasional, lebih mementingkan pikiran dan alasan-alasan lain, serta terkontrol dengan baik akan lebih memudahkan pria dalam melebur dirinya dengan lingkungan publik di mana ia berada, (2) sedang sisi negatifnya adalah pria jadi lebih sering digambarkan sebagai sosok yang bersih dari emosi, kurang kesadaran diri terhadap lingkungan dan sering menempatkan dirinya dalam kegagalan emosi yang beresiko atau kesakitan secara fisik karena ketidakmampuannya dalam mengekspersikan emosi.
Jika bercermin pada keterangan di atas maka dapat dipahami mengapa banyak pria bisa terjebak dalam keadaan yang sangat tidak mengenakkan, misalnya saja mabuk-mabukkan karena tidak mampu menceritakan masalahnya, merokok sampai beberapa bungkus sehari saat sedang stres dengan alasan tidak memiliki kawan untuk berbagi sampai bahkan ada yang menyakiti diri sendiri dengan memukul-mukul tembok sebagai pelampiasan gejolak emosi yang terpendam (Wood, 2000).
Menurut Lupton (1998), hal di atas wajar terjadi karena pria sering merasa asing dengan dirinya sendiri, menafikkan emosi yang benar-benar dirasakan dan tidak mampu menerjemahkan apa yang mereka rasakan, mengapa merasakan hal tersebut dan bagaimana bisa mereka merasakannya. Pria juga dipandang sebagai individu yang tumpul dan kasar dalam menampilkan tipe-tipe emosi serta cenderung kurang tertarik terhadap sensibilitas emosi. Disebutkan pula bahwa penekanan emosi ke dalam dan ketidakberdayaan pria dalam mengekspresikan emosi berbanding setara dengan ketidakmampuannya membicarakan apa yang sedang mereka rasakan (Yudice dalam Lupton, 1998).
Seidler (dalam Lupton, 1998) menjelaskan pada saat pria merasakan rasa takut, frustasi, ketidakamanan dan kecemasan mereka akan menyangkal apa yang mereka rasakan dengan menampilkan perilaku yang terkontrol, disiplin dan tidak tertekan. Pria juga disebut sebagai sosok yang impoten dan tidak fasih bicara masalah emosi serta menganggap emosi sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga mereka takut dan menghindarinya (Horrocks dalam Lupton, 1998). Dalam beberapa kasus, pria terjebak sendiri dalam ego maskulinitas yang berkembang karena bentukan norma (Hofstede, 1998) sehingga mereka bahkan cenderung enggan terbuka tentang sisi-sisi feminin yang dimilikinya pada pria-pria lain sebagai kaumnya sendiri (Snell dkk. dalam Prager, 1995).
Secara lebih lanjut, Horrocks (dalam Lupton, 1998) menggunakan istilah emotional autism untuk menggambarkan pria yang tidak tahu bagaimana cara merasakan emosinya, bagaimana berespon terhadap dunia secara baik dan menarik diri dari proses intimasi dengan orang lain. Gilligan (dalam Wolfinger & Rabow, 1997) bahkan mengatakan bahwa pria lebih memegang standar moral dalam pengaplikasian prinsip-prinsipnya dan kurang referensi yang baik terhadap apa yang seharusnya dilakukan guna membentuk hubungan sosial yang hangat.
Tapi tentu tidak adil jika pria selalu ditempatkan sebagai sosok yang kurang mampu bersikap lebih dalam pengekspresian perasaan di banding wanita. Hong dan Bartley (dalam Moore, Kennedy, & Furlonger, 1999) pernah mengadakan sebuah penelitian menarik. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa pria lebih romantis dibanding wanita dalam hubungan percintaan. Mereka melakukan hal ini dengan tujuan agar kaum wanita lebih mampu bersikap fleksibel dan mengikuti kaum pria dalam bersikap praktis dalam hubungan tersebut. Kenyataan ini paling tidak menggambarkan bahwa tidak sepanjang waktu pria bersikap acuh dan seperti dingin terhadap pasangannya atau orang lain.
Ketika wanita komplain tentang kurangnya intimasi, biasanya mereka merasa bahwa pria kurang bisa mengungkapkan apa yang ada dipikiran mereka dan apa yang mereka rasakan. Banyak pria percaya bahwa bentuk pengharapan seperti itu terkadang terlihat seperti kurang adil karena mereka memperlihatkan intimasinya tersebut dalam bentuk yang lain, seperti seks misalnya (Benokraitis, 1996). Di sisi lain, pria juga lebih sering memberikan kado atau hadiah sebagai bentuk kongkrit dari pengekspresian rasa cinta, kasih sayang dan intimasi kepada pasangannya karena mereka pikir hal tersebut lebih mudah dilakukan daripada sekedar berbicara saja (Cheal dalam Benokraitis, 1996).
Sebuah penelitian neurobiopsikologi juga pernah menjelaskan bahwa otak yang berhubungan dengan emosi pada pria lebih jarang memberikan sinyal sensoris dibandingkan pada wanita ketika dihadapkan pada stimulus-stimulus afektif. Hal ini memberikan penjelasan juga terhadap penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pria cenderung lebih mengalami kesulitan dalam mengenali respon-respon emosi dari orang lain dibandingkan wanita. Penelitian lain bahkan mengedepankan hormon testosteron sebagai tersangka utama yang menyebabkan pria menjadi kurang sensitif terhadap stimulus-stimulus afektif.
Fakta menarik lain ditampilkan oleh Wood (2000) yang menjelaskan bahwa di Nepal, kaum pria dituntut untuk sama seperti wanita dalam mengasuh anak dan para lanjut usia. Hal ini sesuai dengan sebuah penelitian yang dipaparkan Kaye dan Applegate (dalam Wood, 2000) yang menjelaskan bahwa sebenarnya pria memiliki kemampuan yang sama dengan wanita dalam hal mencintai, mengasuh dan bersikap responsif dalam keluarga. Penelitian menarik lainnya juga dijelaskan oleh Mead (dalam Wood, 2000) yang menyatakan bahwa di masyarakat lain diketahui bahwa kaum prianya lebih peduli pada penampilan fisiknya dibanding kaum wanitanya yang bersikap lebih mandiri dan tertutup secara emosi.
Pada akhirnya, memang pria dan wanita tetap berbeda dalam pengekspresian emosi. Tetapi setidaknya, ada banyak hal baru yang dapat dijadikan pemahaman tentang mengapa pria seringkali lebih “dingin” dibanding wanita. Pemahaman ini perlu untuk meluruskan hal-hal yang salah bahwa sesungguhnya semuanya tidak sedangkal yang diketahui selama ini.
Adalah sesuatu yang menarik jika melihat keterangan di atas tentang bagaimana budaya telah membentuk pria dan wanita dalam menampilkan emosi mereka. Mungkin saja di Barat, emosi dengan segala bentuk pengeskpresiannya pada pria maupun wanita lebih dilihat sebagai sesuatu yang natural dan bukan secara kultural (Lutz, 2000), tetapi dapat dilihat dengan cukup jelas bahwa budaya memainkan peranan yang penting di sini.
Moore, Kennedy dan Furlonger (1999) mendukung pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa budayalah yang mengasosiasikan wanita dengan segala sifat femininnya dan pria dengan segala sifat maskulinnya. Maka tidak mengherankan bahwa dikotomi pria dan wanita dalam hal pengekspresian emosipun menjadi sedemikian diskrit dan terkotak-kotaknya. Jika memang begitu, bagaimana pemahaman tentang perbedaan pengekspresian emosi antara pria dan wanita sekarang ini? Jika ada yang harus disalahkan, apakah itu memang budaya yang patut menerimanya? Ataukah memang masyarakat itu sendiri yang selama ini telah membiarkan diri mereka dininabobokan oleh prasangka dan pemahaman sempit tentang hal itu? Atau sebaiknya dikembalikan pada masyarakat saja? Toh, semua ini semakin memantapkan pemahaman, bahwa ketidaktahuan pada masing-masing jenis kelamin yang berbeda adalah bagian dari keseimbangan alam. Tahu segalanya tidak akan pernah cukup sebab manusia adalah bagian dari ketidaktahuan itu sendiri.