Selasa, 28 April 2009

If U Seek Amy dan Kita

Belakangan ini saya sedang termehek-mehek (baca: tergila-gila) dengan tembang terbaru dari Britney Spears dari album Circus yang berjudul If U Seek Amy. Rasanya kurang afdol kalau cuma sekedar geleng-geleng angguk-angguk model dugem waktu mendengarkan lagu ini. Oleh karenanya, dengan semangat yang luar binasa eh, biasa, saya mencari lirik lagu ini di internet untuk di-copy paste agar bisa bergoyang plus menemani jeung Britney ini bernyanyi. Walaupun (baru) menyadari bahwa proses copy paste tidak bisa lagi dilakukan saya tetap tidak mengendurkan semangat untuk mencatat setiap kata-kata di liriknya. Setelah semuanya selesai, baru saya menyempatkan diri membaca riuh rendah komentar yang berseliweran di internet mengenai lirik lagu ini.

Memang ada apa sih? Begitu yang ada di pikiran saya. What’s wrong with the song? What’s wrong with..... ooops, the title? Setelah membaca sebagian komentar saya baru menyadari sesuatu. Judul lagu ini ternyata mengisyaratkan sesuatu yang kemudian menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Saya sedikit tertawa ketika harus membacanya dengan mempergunakan sebagian kecil prinsip feature analysis dari Psikologi Kognitif (fiuh......, capek deh....). If merujuk pada huruf F. U adalah memang huruf U. Seek harus dipecah menjadi See (lafal dari huruf C) dengan huruf K sebagai huruf K. Sedangkan Amy dibaca sebagai me. Baru saya ngeh apa yang diributkan banyak orang tersebut. Arti dari judul itu adalah f*** m*. Mau tahu sepenggal lirik di bagian reffrainnya? Love me, hate me. But, can’t you see what I see? All of the boys and all of the girls are begging to if you seek Amy...... Isi lagu menjadi kian jelas tersampaikan ketika saya melihat video klipnya yang memang “hot” di sana-sini.

Sedikit saja yang menyatakan kekaguman atas judul yang ambigu dan kamuflatif ini. Sisanya, menyatakan kritikan, cercaan, hingga makian terhadap sang empunya lagu. Ada yang mengatakan bahwa semenjak akrab dengan alkohol dan obat-obatan terlarang jeung Britney ini menjadi lebih lantang menyuarakan seksualitas dalam lagu-lagunya. Ada pula yang bilang bahwa hal ini seperti menyatakan dukungan terhadap kebebasan seksualitas dalam bentuk yang kasar dan vulgar. Belum lagi mereka yang menyebutkan bahwa Britney dengan sengaja seperti mengindikasikan biseksualitas sebagai orientasi seks.

Jika dilihat dari kacamata dunia industri (hiburan) mungkin hal tersebut sah-sah saja. Kontroversi selalu dibutuhkan untuk mendukung popularitas dan komersialitas, plus supaya laris tentunya. Namun saya justru tertarik melihatnya dari kacamata yang sedikit berbeda. Permisivitas seksualitas di Amerika bisa jadi adalah sesuatu yang wajar dan mungkin tergolong normatif. Tetapi mengapa masalah judul “seperti ini” saja harus diributkan? Apakah sesuatu yang negatif tidak boleh “dikampanyekan”? Atau, jangan-jangan sesungguhnya mereka sadar bahwa permisivitas seksualitas adalah hal yang buruk, jadi ketika diposisikan sebagai hal yang diekspos secara wajar jadi terasa tidak enak

Saya tidak terlalu tertarik membicarakan lagu jeung Britney tersebut terlalu jauh karena tiba-tiba saya teringat dengan beberapa film bioskop Indonesia yang judulnya juga kontroversial karena mengundang pemahaman yang menyerempet perihal seksualitas. Sudah lama saya menganggap masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang tidak pernah beranjak dari masa pubertas. Senang dengan kontroversi, merasa paling benar tapi tidak bisa meluruskan banyak hal menyimpang dan justru menikmatinya, sulit disalahkan apalagi melakukan evaluasi diri dan sebagainya. Contoh sederhananya ya judul film-film bioskop tersebut. Suara sumbang tetap ada walaupun kecil. Sensor jadi seperti tidak berguna karena hanya menyensor hal-hal yang tidak penting. Filmnya ternyata cukup laris pula (walaupun seringkali penonton setia film-film ini adalah para remaja, muda-mudi atau pasangan kekasih yang juga “membuat film” sendiri di dalam bioskop).

Saya pribadi tidak ingin tenggelam dalam polemik berkepanjangan mengenai benar-salah, baik dalam konteks etis ataupun religi. Paling tidak, selesaikan dulu satu masalah sederhana sebelum sampai pada tahap tersebut. Segera lewati masa pubertas, temukan identitas diri yang jelas, dan ambil sikap. Katakan ‘salah’ jika memang salah, dan konsistenlah dengan pilihan tersebut. Atau, katakan ‘tidak mengapa’ dan jangan kemudian tuding sana sini salah seolah-olah dirinya paling benar.
Jadi, saya lebih suka memandang kasus lagu jeung Britney ini sebagai masukan dan tambahan informasi agar lebih mudah memahami banyaknya fenomena sosial (yang tidak jelas, hehehehe....) yang bermunculan dewasa ini. Kemudian, tetap menggoyang-goyangkan badan sambil tergopoh-gopoh mengikuti lirik lagu jeung Britney ini. La la la, la la la................

2 komentar:

  1. terlepas dari semua kontroversi yang mengikuti Britney,
    i think im with her in this song..
    i mean, please..
    who doesnt wanna if-u-seek Britney??
    kayaknya perempuan paling straight di muka bumi juga ngga bakal nolak..
    haha..






    "Permisivitas seksualitas di Amerika bisa jadi adalah sesuatu yang wajar dan mungkin tergolong normatif. Tetapi mengapa masalah judul “seperti ini” saja harus diributkan?"

    --> memang, KELIHATANNYA di Amerika masalah permisivitas seksual (termasuk orientasi seksual) merupakan hal yang tergolong normatif dalam artian semua orang berhak memiliki orientasi seksualnya sendiri, dan mengakuinya tanpa harus merasa dikucilkan. tapi sebenarnya tidak demikian, kebanyakan warga Amerika masih tetap berpendapat bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas adalah hal yang merupakan zona pribadi, yang tak pantas diumbar ke area umum. namun kadangkala, industri media massa (baik cetak maupun elektronik), cenderung menampilkan wajah Amerika yang hedonis, yang "seksual".

    cara kita memandang orang lain (dalam hal ini, negara lain) tergantung kita masing-masing..


    "Katakan ‘salah’ jika memang salah, dan konsistenlah dengan pilihan tersebut. Atau, katakan ‘tidak mengapa’ dan jangan kemudian tuding sana sini salah seolah-olah dirinya paling benar."


    pokoknya, khusus untuk lagu ini, saya setuju ama mbak Britney..
    sapa juga yang bisa "nolak" dia?
    people can say what they wanna say, but we DO wanna if-u-seek Britney..
    ahahaha..

    BalasHapus
  2. @ the.spicy.alligator:

    Betul! Saya juga setuju. Terima kasih banyak atas masukan dan tambahannya ya......

    BalasHapus